Mengapa novel ini tetap relevan, bahkan bagi pembaca Indonesia di era digital saat ini? Jawabannya terletak pada sifat dosa dan rasa bersalah. Di era media sosial, di mana "pengadilan publik" seringkali menjatuhkan vonis tanpa bukti yang cukup, narasi And Then There Were None terasa sangat dekat. Kita hidup di era di mana kesalahan masa lalu seseorang dapat digali kembali dan digunakan untuk menghancurkan hidup mereka.
Hakim Wargrave, otak di balik pembantaian ini, memandang dirinya sebagai agen keadilan mutlak. Ia percaya bahwa hukum manusia terlalu lemah dan penuh celah. Dengan mengumpulkan para "pelaku dosa" ini, ia bertindak sebagai eksekutor divisi moral. Namun, Christie dengan cerdik memperlihatkan ironi dari tindakan Wargrave. Untuk menegakkan "keadilan" tersebut, ia harus menjadi pembunuh berantai yang lebih kejam dari para korbannya. Ini menciptakan paradoks moral: apakah hukuman mati yang dijatuhkan tanpa proses pengadilan (vigilantisme) dapat dibenarkan? Novel ini tidak memberikan jawaban mudah, melainkan memaksa pembaca untuk merasa tidak nyaman dengan simpati mereka terhadap korban-korban yang sebenarnya adalah penjahat. and then there were none sub indo